08 February 2010
MEMBUMIKAN FALSAFAH SUNDA "SAREUNDEUK SAIGEL SABOBOT SAPIHANEAN"
Namun kadang kita sering terjebak pada tipu daya otak kita sendiri, kadang merasa paling pintar dari satu sisi, tetapi tidak melihat kekurangan kita dari sisi lainnya. Pada kasus ini, peran hati sering tidak kita optimalkan sebagaimana mestinya. Merengkuh ketidakberdayaan kita, itulah sesungguhnya yang harus kita tanamkan dalam hati ini. Dengan kecintaan tentunya. Ya, akhirnya kata cinta yang menjadi kunci memaksimalkan potensi otak maupun hati kita.
Kalau dikisahkan; seorang murid Abul Said Abul Khair pernah berkata, “Guru, di tempat lain ada orang yang bisa terbang?” Abul Khair menjawab, “Tidak aneh. Lalat juga bisa terbang.” “Guru, disana ada orang yang bisa berjalan diatas air,” muridnya berkata lagi. Abul Khair berkata lagi,”Itu juga tak aneh, katak pun bisa berjalan diatas air.” Muridnya berujar lagi, “Guru di negeri itu ada orang yang bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan” Abul Khair menjawab, “Yang paling pintar seperti itu adalah syetan. Ia bisa berada di hati jutaan manusia dalam waktu yang sama”. Murid-muridnya bingung dan bertanya, “Kalau begitu Guru, bagaimana cara paling cepat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.?” Ternyata murid-muridnya beranggapan bahwa orang yang dekat dengan Allah SWT. Itu adalah orang yang memiliki berbagai keajaiban dan kekuatan supranatural. Abul Khair menjawab, ”Banyak jalan untuk mendekati Tuhan, sebanyak bilangan napas para pencari Tuhan. Tetapi, jalan yang paling dekat kepada Allah adalah membahagiakan orang lain di sekitarmu. Engkau berkhidmat kepada mereka dan Pemimpinmu.”
Dari kisah diatas, yang perlu digaris bawahi adalah kalimat terakhirnya, “Engkau berkhidmat kepada mereka dan Pemimpinmu”. Penekanannya adalah sejauhmana kemampuan otak kita ini dalam menerima apapun yang menjadi pendapat sumbangsih pemikiran orang lain, sehingga menimbulkan kekaguman dan penghargaan, walau dirasa pendapat orang tersebut tidak sesuai dengan prinsip kita. Peran hati lah yang perlu ditumbuhkan disini. Begitupun dalam hal ini, terhadap pemimpin kita, pemimpin yang mempunyai kebijakan terhadap nasib rakyat yang dipimpinnya. Jika kebijakannya dirasa menurut hati kita sesuai dengan apa yang dicita-citakan tanpa melanggar apa yang menjadi role of the game-nya, baik menurut hukum ketatanegaraan maupun hukum Qur’an. Apalagi kebijakan dan program yang telah dijalankannya itu sudah jelas wujudnya di hadapan kita, maka sudah selayaknya kita ikut mendukung dan menanamkan sebuah falsafah kasundaan, “Sareundek saigel sabobot sapihanean” agar kedigjayaan di kabupaten ini terwujud.
Bahasanya juga “sa” dalam bahasa sunda “sa” itu artinya sudah menjadi satu kesatuan. Satu kesatuan dari cara berpikir, ucapan, dan tingkahlaku antara pemimpin dan rakyatnya. “geus teu bisa dilepaskeun panon jeung kiceupna, ceuli jeung danguna, irung jeung angseu’ na, letah jeung ucapna, hate jeung ka’ikhlasanana.” (H. Dedi Mulyadi, dalam sambutan acara Tabligh Akbar sebuah Yayasan di Kelurahan Cipaisan). Untuk itu, diperlukan kebersediaan dan keikhlasan kita dalam menerima dan menjalankan apa yang sudah menjadi program pembangunannya. Begitupun, tentunya Pemimpin itu sendiri seyogyanya siap membuka hati lebar dalam menerima kritik dan saran dari rakyatnya. Hilangkan apa yang menjadi penyakit hati kita, hilangkan ego kepintaran otak kita.
Namun pernyataan ini bukan berarti kemudian kita hanya berijtihad sama dengan pemimpin kita, atau kita taklid yang tanpa makna/taklid buta. Ataupun kita kemudian mengIdolakan Pemimpin itu, seperti halnya seorang Suparman alias Ayi Beutik sang Panglima Viking, yang saking cintanya kepada PERSIB, nama anaknyapun menjadi JAYALAH PERSIBKU, atau anak keduanya, USAB PERNING (bahasa gaul tempo dulu, yang artinya URANG PERSIB). Karena apa yang dialami Suparman itu berbeda dengan sareundeuk, saigel sabobot sapihanenan-nya kita dengan Pemimpin yang saat ini menjabat. Kalaupun dikemudian hari pemimpin kita terbukti salah secara hukum, maka jangankan orang yang benci terhadap pemimpin itu sejak dulu, sayapun sebagai dokumentator Bupati yang notabene pemimpin di kabupaten ini, mungkin saya paling depan untuk menuntutnya turun sebagai Bupati. [soem]
25 January 2010
Mari Efektifkan Waktu dan Kesempatan Sekecil Apapun
Setelah mengisi acara tersebut, Bupati mampir ke Rumah Dinas di alun-alun, barang sebentar untuk mempersiapkan segala sesuatunya menuju Kota Banjar. Kembali saya tak habis pikir, di Rumdin (sebutan terpopuler untuk Rumah Dinas) ternyata sudah menunggu beberapa pejabat teras pemkab, yakni Kepala Dinas Bina Marga, Inspektorat, dan Kabag Pembangunan.”kok, acara Partai harus bawa Pejabat Pemkab (PNS)” begitu di pikiran saya bergelanyut pertanyaan. Sepanjang perjalanan menuju Kota Banjar, pikiran saya dipenuhi pertanyaan tadi. 4 jam perjalanan cukup melelahkan, tepat pukul 12.47 WIB rombongan sampai di kota Banjar (sebenarnya bukan rombongan, tetapi hanya dua mobil, satu mobil untuk Bupati dan para pejabat pemkab tadi, pengurus DPD Golkar Provinsi dan satu lagi untuk para staf, ajudan dan pengawal pribadi Bupati, termasuk saya, hal ini menurut Bupati sebagai efisiensi dari pemakaian kendaraan biar tidak keluar banyak ongkos). Bupati sekarang resmi disebut sebagai Sekretaris DPD GOLKAR Provinsi Jawa Barat, pikiran saya baru tersadarkan oleh sapaan Wali Kota Banjar, Dr. dr. Herman Sutrisno yang juga ketua DPD Golkar Kota Banjar (ya, orang tua dari sisi umur dan pengalaman ini, yang akan dilantik oleh maaf “Bupati” kita). “Wilujeng Sumping kang SEKJEN di Kota Banjar”, begitu sapaan Wali Kota.
Pertanyaan yang selama perjalanan tadi memenuhi pikiran saya itu, kini telah terjawab. Ya, Bupati sengaja membawa pejabat Pemkab (Kadis Bina Marga, Inspektorat dan Kabag Pembangunan) adalah untuk melakukan studi banding tentang penataan tata ruang kota dan jalan-jalan di Kota tersebut, Bupati menyempatkan bertanya dan berguru kepada Walikota Banjar mengenai keberhasilan Kota tersebut membangun sarana fisik dan mental masyarakatnya. Dalam cerita singkat ini, menggambarkan kepada kita bahwa sekecil apapun kesempatan dan sesingkat apapun waktu yang kita miliki, seyogyanya dapat diefektifkan secara maksimal, tak ada ruang pemisah antara urusan dinas dan urusan kepartaian, selama kita masih bisa me-manage-nya dengan baik. [soem]
22 January 2010
Pendidikan Penuh Cinta, Menumbuhkan Benih-benih Kreativitas
Modal kreatifitas yang dibangun sejak bangku Sekolah itu, menjadi modal dasar seorang Bupati muda dalam memimpin daerahnya. kreatifitas kepribadian dan kepemimpinannya itu, tergambarkan dalam sesion tanya jawab yang dilontarkan seorang siswa SMK Purnawarman, Nakila, selorohnya menanggapi Pembangunan yang dilakukan Bupati mulai Pembangunan Jalan Hotmik di pelosok pedesaan dengan sebutan Jalan Leucir, hingga Pembangunan Gapura Kembar (Gapura Indung Rayahu), Pagar Malati dan Atap Julang Ngapak. Komentar Bupati menanggapi pertanyaan itu cukup sederhana, ya... Bupati cukup berbangga, dari sisi pernyataan siswa tadi, menggambarkan Pendidikan telah menciptakan Inovasi berbentuk buah pikir yang terlontar dari mulut siswa SMK Purnawarman. Artinya bahwa, siswa tadi telah melakukan inovasi dan kreasi cara pikirnya mengenai Pembangunan di kabupatennya, sehingga dibenak siswa tadi bergemuruh pertanyaan-pertanyaan, mengapa harus Gapura Indung Rahayu, mengapa harus Julang Ngapak, mengapa juga harus Pagar Malati?? (lebih jelasnya pada tulisan lain).
Namun menurut Bupati, tidak cukup hanya berkreasi dan inovasi. Pendidikan tidak cukup hanya pada batas intelektual, menjadikan anak manusia menjadi cerdas saja tidak akan menghasilkan apa-apa. Ada hal kedua yang harus menjadi pertimbangan Pendidikan kita, yaitu nilai-nilai rasa. Nilai rasa adalah mencoba untuk memengaruhi nilai-nilai intelektual agar seluruh imajinasi intelektualnya ada nilai-nilai keindahan yang dipenuhi rasa cinta. Salah satu nilai rasa adalah imajinasi, melalui imajinasi seseorang dapat menembus apa yang semula tidak mungkin. Imajinasi sangatlah penting bagi proses kreatif, sementara intelektualitas memikirkan "Bagaimana caranya"?, Imajinasi memberikan gambaran mengenai "apa jadinya"? apa yang dipikirkan itu dimasa depan (Kang Dedi Mulyadi, Mengayuh Negeri Dengan Cinta, 2009). Jika dimisalkan, seorang siswa SMP yang akan melanjutkan ke jenjang Sekolah Kejuruan, tentunya memikirkan nilai-nilai intelektual yang mendukung pada dirinya. Jurusan apa yang sesuai dengan kemampuan intelektualitasnya, dan nilai-nilai rasa akan memengaruhi pilihan intelektualnya, jika yang dipilih jurusan Mesin (sebagaimana kecenderungan intelektualnya), apakah dikemudian hari siswa itu dapat menggunakan kemampuan permesinannya sesuai kebutuhan di masyarakat atau apakah dengan memiliki kemampuan permesinan dia akan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak (dengan didasari nilai-nilai rasa dan kecintaan), ini semua adalah imajinasi yang penuh cinta dan membutuhkan kreatifitas. Begitu pula, kecintaan seorang Bupati pada rakyat yang dipimpinnya, "menjerumuskannya" pada semangat berkreasi membangun Kabupaten yang dipimpinnya.
Hening di ruangan Wikara I Pemkab Purwakarta begitu terasa, padahal sekitar 200 siswa menyesaki ruangan tersebut. Pemaparan dan penegasan Bupati yang penuh cinta itu, mungkin menghantarkan anak-anak yang hadir berimajinasi ke alam bawah sadarnya. Mereguk Pendidikan Cinta itu, menghanyutkan mereka pada imajinasi berkreatifitas dan berinovasi. Begitu pula, seseorang yang berdiri di belakang mereka, dokumenter Bupati (kamerawan) yang berimajinasi untuk membuat tulisan ini, yang akhirnya dapat dinikmati penuh cinta oleh pembaca semua. [soem]
10 December 2009
Purwakarta Memenangkan Investment Award 2009

oleh Menteri Perekonomian Hatta Rajasa kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi
Enam indikator yang menjadi dasar penilaian sebuah daerah layak mendapat predikat terbaik adalah kelembagaan instansi pelayanan penanaman modal, pelayanan perizinan usaha, dukungan teknologi dan sistem informasi penanaman modal dan perizinan, mekanisme pengaduan dan evaluasi kinerja pelayanan, ketersediaan dan kualitas informasi layanan dan potensi daerah, serta inovasi dan keberhasilan. Setelah menerima penghargaan, Bupati Dedi Mulyadi menyatakan, esensi dan prestasi ini bukanlah penghargaannya, melainkan angka penanaman modal di Purwakarta yang secara riil memang terbilang tinggi.
19 October 2009
Kades Purwakarta Kiwari, Sanes Kades Purwakarta Kamari
Sagala puji kalih syukur kasanggakeun ka Allah Rabbul Ghafur, rohmat miwah salam pamugi netes ka Muhammad SAW, nu parantos muka lawang tina kahirupan poek mongkleng buta rana kana kahirupan nu caang ngempray pinuh cahaya ilahar disebut miandzulumat ilannur, mantenna salaku Nabi, nu jadi pamingpin umat sakaligus pamingpin masarakat nu kudu jadi inspirasi sakaligus motivasi k asadaya pamingpin nu nuju nyakrawati, geusan ngawujudkeun kahirupan lembur makmur kota bagja.
Sabab geus ngancik dina kayakinan, lamun lembur geus makmur pasti kota bakal bagja. Patali sareng eta pasualan, urang sarerea sabenerna geus kahutangan budi ku peran jeung fungsi masarakat pilemburan atawa padesaan dina nanjeurna ajen pangwangunan daerah, malah nasional. Padahal nasib masarakat di desa sakitu lilana dipopohokeun tur dipapalerkeun dina urusan pangwangunan jeung politik sarta pamarentahanana. Rahayat padesaan dina catur pangwangunan nasional jeung daerah, sering jadi anak tere, malah diapilainkeun ku sering diseubt masarakat tradisional, dusun, udik, miskin, bodo jeung sebutan goreng lianna, anu akhirna rahayat padesaan terus-terusan aya dina sarwa kakurangan tur kaprihatinan jeung teu percaya diri.
Padahal saestuna, pangwangunan anu keur dilaksanakan ku pamarentah di sadaya tingkatanana, bakal sukses jeung lancar lamun desa teu ngan saukur dijadikeun anak bawang (sub ordinasi) pangwangunan. Desa nu jadi puser nganjrekna mayoritas masarakat, ngabogaan kakuatan anu kacida pentingna, pikeun dijadikeun kakuatan geusan ngawangun ieu nagri, hususna dina alam demokrasi jeung dina era reformasi kiwari.
Tangtuna urang mufakat, yen kasalahan pola pangwangunan nu geus kaliwat, nu cenderung mopohokeun ajen diri jeung harkat luhur padesaan ulah dibalikan deui di jaman kiwari. Dumasar kana hal ieu, kiwari program pangwangunan Pamarentah Kabupaten Purwakarta seja sakuat tanaga nata ulang jeung usaha satekah polah ngaberdayakeun masarakat padesaan dina format anyar tur bener, anu bakal ngutamakeun usaha pikeun ngembangkeun tur ngamumule ajen diri sarta harkat para pamong desa.
Kurangna perhatian kana pangwangunan desa, ngabalukarkeun desa angger tinggaleun dina sagala widang, boh widang ekonomi, sosial budaya jeung politik. Gagalna ngajadikeun desa jadi kakuatan ekonomi, sosial jeung demokrasi ngabalukarkeun tarekah pangwangunan anu teu mawa hasil mucekil keur sakumna rahayat desa. Sabab nu enya dihenteu-henteu, ari nu henteu dienya-enya. Katurug katutuh, kawijakan publik pamarentah jarang pisan nu mihak kana nasib padesaan. Malah seringna mah, rahayat di padesaan ngan hungkul jadi tukang "lalajo" tinimbang "nu dilalajoan" dina pangwangunan desa. Aya sababaraha alesan kunaon tarekah ngokolakeun peran desa di Kabupaten Purwakarta jadi kalintang penting sarta jadi target pokok pamarentah. Kahiji, jumlah penduduk lolobana nganjrek di desa. Kadua, desa jumlahna leuwing loba tibatan jumlah kelurahan di Kabupaten Purwakarta. Katilu, sacara dhohir desa mangrupakeun kantong kamiskinan jeung kakurangan nu kuduna dirobah jadi sumber produksi nu mere manfaat pikeun masarakat jeung pamarentah. Alesan sejenna, jurang pamisah antara kota jeung desa nu kalintang jerona ngabalukarkeun munculna sistem kapitalisasi ekonomi, nyaeta nu miskin beuki miskin, nu beunghar beuki beunghar. Kalima, posisi tawar masarakat desa lemah keneh dina nangtukeun kawijakan publik. Dina ayana oge, ngan wungkul semu dina proses ngarumuskeun, ngalaksanakeun, jeung evaluasi pangwangunan. Balukarna henteu cukup ngabantu masarakat. Kagenep, desa ngabogaan kakuatan sumber daya alam nu ngandung ajen luhur pikeun daerah. Katujuh, masarakat desa ngabogaan peran nu kalintang signifikan pikeun masarakat kota, boh hasil sawah, kebon, jeung ingon-ingon.
Inajen nu kudu dipimilik dina raraga merenahkeun deui peran desa dina pangwangunan nyaeta ku ngawangun roh kamandirian, insiatif, prakarsa jeung ngaleungitkeun cupat gumantung ka batur. Tangtu ngajawab ieu pasualan, henteu cukup jadi tanggung jawab pamarentah kabupaten hungkul tanpa dirojong ku sakabeh stakeholder, aparat jeung pamarentahan di tingkat desa lainna, tanpa kecuali dina hal ieu pupuhu desa salaku motivator, dinamisator jeung inisiator gumelarna pamarentahan jeung pangwangunan di desa.
Ikhtiar nu dilakukeun geusan ngawujudkeun peran desa kasabit, nyaeta ku jalan reorientasi jeung reposisi peran-fungsi kalembagaan desa ti kawit nu dimimitian pamarentah tingkat pusat nu kudu ajeg mihak atas jadi alat masyarakat anu berpihak kana pangabutuh masarakat desa, ngaronjatkeun panghasilan desa, ngembangkeun sumber daya manusa desa, nguatkeun partisipasi masarakat sarta nyadiakeun infrastruktur nu bisa muka jalur masyarakat desa.
Pamarentahan desa ngarupakeun gambaran pamarentahan warisan nu khas ti karuhun urang sarerea, salaku amanat nu kudu dimumule kaayaanana, kalumangsunganana, jeung fungsina, nu dipamrih malah-mandar bisa ngarojong tumuwuhna karaharjaan rahayatna. Berdayana desa mangrupakeun prestasi pamarentah daerah, tapi teu berdayana desa jadi gambaran nyata teu mihakna pamarentah daerah. Dumasar kana hal eta, Pamarentah Kabupaten Purwakarta ngaliwatan program pangwangunan: Salapan Lengkah Ngawangun Nagri Raharja, geus nempatkeun peran desa salaku tujuan utama sasaran pangwangunan daerah. Geus wancikna desa jadi puseur pangwangunan daerah. Lengkah nyatana ku nguatan otonomi kultural jeung struktural masarakat padesaan, sarta desentralisasi pangwangunan desa kaasup desentralisasi nangtukeun anggaran perimbangan desa, nu ngagambarkeun sumanget ka'adilan panghasilan desa jeung daerah, atawa ilahar ku istilah gemah ripah, repeh rapih, sugih mukti lemah cai, wibawa karta raharja.
Peran jeung fungsi desa di ieu nagri, geus bukti jauh samemeh lahirna Nagara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), komunitas masyarakat nu disebut desa geus lila dijieun jeung ngabogaan peran dina ngajaga katertiban jeung kaajegan kahirupan masyarakat. Masyarakat desa dipercaya salaku dasar nagara, nu icik-kibung sarta mere arah, pondasi, jeung tujuan nagara, nu pamustunganana kagambar dina hiji pondasi kahirupan nagara. Salaku pondasi nagara, desa ngabogaan ajen yen kakuatan Nagara gumantung kana kakuatan desa. Desa kuat, nagara hebat. Ungkapan ieu ngandung harti, yen pamadegan (ideologi), kaayaan sosial, ekonomi jeung budaya hiji Nagara, gumantung pisan kana kkuatan ideolog, sosial, ekonomi jeung budaya masyarakat desa.
Desa mangrupakeun hiji kumpulan masyarakat nu ngagem ajen budaya kalayan tingkat kacerdasan kultural nu kalintang luhurna, ajeg dina pamadegan, tigin kana janji, abadi kana pasini. Kacerdasan kutural geus mawa kahirupan masyarakat desa nu sehat boh sacara jasmani oge rohani; alam jeung lingkungan, spiritual jeung sosial nu mawa kahirupan masyarakat desa kebek ku suasana damai, harmonis, saimbang jeung raharja kalayan ukuran nu proporsional. Masyarakat desa tumuwuh kalayan ngagem pakem-pakem budaya nu luhur tapi basajan dina kemasanana. Masyarakat desa teu pati dipusingkeun ku rupa-rupa aturan nu nyangreud sacara hukum, tapi ku ngaliwatan taat kana tatali-paranti jeung pamali, nyata-nyata jauh lewih punjul dina ngatur tata kahirupan masyarakat dibandingkeun jeung aturan-aturan hukum anu loba sanksi jeung ancamanana.
Di mimiti zaman dijajah, ieu nagri dugi ka kiwari, desa jadi sumsum kakuatan benteng nagara, dina ngamumule ajen bangsa. Dina wanci kiwari, nu ngajajah bangsa urang, memang henteu sawates ngajajah fisik, tapi oge ngajajah ajen budaya, ideologi, teknologi malahan ngajajah segi sosial sejenna. Geusan nyanghareupan gaya penjajahan jiga kitu, aya hiji kakuatan nu utama nyaeta nguatan kasatiaan kana ideologi pilemburan.
Dina widang ekonomi, desa ngabogaan kakuatan ekonomi kultural jeung sagala tatanan nu aya di jerona, nu sifatna henteu sakadar diarahkeun geusan minuhan kabutuhan haliah wungkul, tapi merhatikeun oge daya dukung jeung kasaimbangan alam jeung lingkungan. Ngagunasika (eksploitasi) sumber daya alam dina kahirupan masyarakat desa kalintang dipahing malah dipungpang kaasup dina raraga ngaronjatkeun karaharjaan. Masyarakat desa dina minuhan kabutuhan widang ekonomi, henteu ngan sakadar mikirkeun kahirupan saliwat, tapi kahirupan nu panjang geusan alaeun isuk-pageto anak jeung incuna. Diantarana ngembangkeun pola organik dina tatanen, nuar tangkal di hulu wotan jeung pagunungan, eta kabeh bagian sikep masyarakat desa nu hakekatna mangrupa bukti ajegna masyarakat desa dina ngamumule lumangsungna kahirupan alam jeung manusa.
Memang teu ngabibisani ku lumakuna jaman geus ngabalukarkeun tatali paranti karuhun di padesaan, geus kajajah ku cara hirup jeung nilai perkotaan. Ajen inajen nu jiga kieu nu kudu menang perhatian urang sadaya, ulah dugika moro julang ngaleupaskeun peusing, tata nilai perekonomian desa nu diwangun ratusan malah rebuan taun ka kubur ku tata nilai ekonomi perkotaan nu cendeung kapitalis, sarakah, sagawayah malah mopohokeun kasaimbangan alam lingkungan.
Dina widang politik, pasualan demokrasi keur masyarakat desa geus lain barang anyar nu di impor ti barat, tapi demokrasi keur masyarakat desa geus jadi tatali paranti nu turun-tumurun ti kauruhun, sabab pamilihan pupuhu desa geus ilahar dipilih sacara langsung malah blak-blakan. Sikep siap eleh jeung siap menang geus jadi jiwa satria masyarakat desa. Dasarna dina budaya tatarucingan, sabab dina tatarucingan mun eleh tara ngambek tapi seuri. Ieu meureun nu disebut seni demokrasi gaya pilemburan. Seni jeung ajen demokrasi pilemburan sejena nyaeta ngutamakeun sumanget duduluran, gotong-royong, jeung ngutamakeun kamaslahatan balarea. Dina interkasi hirup kumbuh masyarakat desa, cara ngajaring calon pamingpina kayalan bener-bener ngagem falsafah, ti rahayat, ku rahayat, jeung keur rahayat kalayan cara milih kepala desa sacara langsung ku masyarakat. Kepala desa nu dipilih sacara langsung diharepkeun salian dipikawanoh, oge mikawanoh ka rahayat nu dipingpinna. Pelatihan kerakyatan leuwih diutamakeun tinimbang pelatihan kapamimpinan. Sabab numutkeun palenggeran jeung ugeran oge, panghade-hadena pamingpin nyaeta pamingpin nu wawuh ka rahayatna, jeung rahayat wawuh ka pemimpina; panghade-hadena pamingpin nyaeta nu mikacinta ka rahayatna, jeung rahayat mikacinta ka pamingpina; panghade-hadena pamingpin nyaeta pamingpin nu ngarasa susah dina kasusah rahayat, ngarasa bungah dina kabungah rahayat, lain bungah dina kasusah rahayat jeung susah dina kabungah rahayat.
Pupuhu Desa dina Wengkuan Pangwangunan Purwakarta
Dina raraga ngarojong program pangwangunan Kabupaten Purwakarta, pangwangunan desa kudu jadi corong, geusan ngawujudna 9 Lengkah Ngawangun Nagri Raharja nu jadi program pangwangunan daerah jeung pasini sadaya pihak di tingkat kabupaten. Hal ieu dilakukeun geusan ngawujudkeun masyarakat Kabupaten Purwakarta nu weweg dina sagala widang pangwangunan, nu wanoh kana dirina, nyaah ka lemah caina, tur walatra dina karaharjaanana.
Pamarentahan desa khususna kepala desa, numutkeun pamadegan pamarentah Kabupaten Purwakarta, kudu bisa nerjemahken konsep, ngawal pelaksanaan pangwangunan, sarta jadi objek sakaligus subjek geusan ngawujudkeun 9 Lengkah Ngawangun Nagri Raharja. Lengkah nyatana, kepala desa jeung pamong-pamong desa lainnya kudu bisa ngawujudkeun kaayaan pamarentahan desa nu kuat, manfaat tur maslahat nu dirojog kalayan kacerdasan administratif jeung kecerdasan kultural. Kacerdasan administratif mangrupa lengkah awal kana kawijakan otonomisasi desa, dimana desa engekna bakal ngemban tugas geuan ngarencanakeun, nglaksanakeunkagiatan pangwangunan sacara mandiri, jalaran kitu diperlukan kacerdasan administratif. Sedengkeun kacerdasan kultural, maksudna kepala desa jeung pamong desa sejena kudu ngabogaan kacerdasan geusan ngigelan kahayang rahayat jeung kahayang alam, supaya rahayat sejahtera dan alam teu kagunasika. Beh dituna, kepala desa jeung pamong desa sejena kudu bia ngajangelek jadi sinatria nu jadi inovator, dinamisator, jeung solutor pasualan nu keur disanghareupan ku rahayatna.
Seterusna kepala desa jeung pamong desa sejena, kudu bisa malikeun kondisi masyarakat padesaan nu jadi sumber kakuatan gotong-royong, sabilulungan atawa gemenschaf jeung kuatna ketahanan pangan masyarakat. Diantarana program beas perelek nu dilaksanakeun bakal bisa mulangkeun desa jadi kakuatan gotong-royong, tali mimitraan, duduluran di tengah-tengah hedonitas jeung modernisasi di alam kiwari. Komitmen desa jeung kapamingpinan kepala desa diharepkeun bisa ngigelan kahayang alam, ngajaga sirah cai, ngagunakeun pupuk organik, mageran masyarakat ngajauhkeun cara-cara anu bisa ngagunasika tur ngarusak alam. Kepala desa jeung para pamong-pamong na kudu rajin ngajak masyarakat pikeun melak tangkal, ngajaga lingkungan jeung kasaimbangan ekosistem sejenna.
14 October 2009
Bupati Purwakarta Jenguk Korban Gempa Sumatera Barat
Bupati langsung masuk ke kamar 5 lantai 3 RS tersebut, tempat Ramlan mendapat perawatan. Didampingi Kabag Umum dan Kabag Humas Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Bupati menyampaikan bantuan biaya perawatan sebesar Rp. 5 jt yang diterima oleh pihak keluarga. Menurut Bupati, pihaknya akan membantu proses tindak lanjut penyembuhan Ramlan. "Insya Allah, saya mewakili Pemerintah Daerah akan membantu Ramlan dalam tindak lanjut penyembuhan apabila memang dibutuhkan. Kalau perlu untuk kaki palsu, kita usahakan," tegasnya.

Sebagaimana diberitakan media nasional, Gempa di Sumatera Barat beberapa waktu lalu telah meluluhlantakkan sebagian Provinsi tersebut. Ramlan yang sedang bekerja pada pembangunan bangunan PT. TELKOM di Padang tertimpa reruntuhan hingga kakinya terjepit. Dengan alasan untuk menyelamatkan diri, Ramlan memotong kakinya sendiri menggunakan gergaji pemotong kayu.
13 October 2009
Setitik Kisah Hidup "Kang H. Dedi Mulyadi, SH"

Saya Dedi Mulyadi, dilahirkan dari keluarga sederhana di Kampung Sukadaya, Desa Sukasari, Kabupaten Subang pada tanggal 11 April 1971. Saya adalah anak bungsu dari 9 bersaudara, putra pasangan Sahlin Ahmad Suryana dan Karsiti. Ayah saya adalah seorang pensiunan Tentara Prajurit Kader yang dipensiunkan muda pada usia 28 tahun akibat sakit yang diderita sebagai dampak racun mata-mata kolonial, sementara ibu saya, yang tidak bersekolah, pada waktu mudanya merupakan aktivis Palang Merah Indonesia.
Saya konon dilahirkan dengan sulit oleh ibu. Butuh 3 hari 3 malam hingga persalinan baru bisa selesai dengan bantuan seorang bidan. Di masa kecil, saya senang sekali bermain perang-perangan dan setiap kali bermain, saya selalu mengambil peran sebagai komandan dengan pangkat Kolonel, sementara teman-teman sebaya diberi pangkat kopral. Masa kanak-kanak saya habiskan dengan menggembala ternak, menyabit rumput dan mengumpukan kayu bakar yang bertahan dari sejak SD sampai tamat SMA.
Meskipun pernah tidak naik kelas pada saat duduk di kelas 1, selama menjadi siswa SD, saya selalu menjadi Ketua Kelas dan mendapat ranking pertama pada setiap tahunnya.
Jenjang pendidikan SMP saya lalui dengan keprihatinan. Untuk mencapai sekolah saja, jarak yang harus ditempuh setiap hari lebih kurang 20 KM, itu pun ditempuh dengan menggunakan sepeda dengan kondisi yang alakadarnya. Mulai dari sepeda yang dibeli dari hasil jerih payah sendiri seharga Rp 3.500,- hingga sepeda yang berharga Rp 120.000,- dari hasil penjualan kambing yang saya pelihara.
Postur tubuh yang kecil, mengakibatkan saya dijuluki si Unyil, namun tidak menjadi hambatan untuk dikenal karena kemampuan saya dalam berpidato, berdakwah dan membaca puisi, serta selalu menjadi juara dalam bidang puisi, dakwah dan pidato.
Masa SMA saya lewati dengan keprihatinan pula, bersekolah sambil menjadi tukang juru photo, berjualan layang-layang, menjadi penarik ojek, segala hal yang bisa menghasilkan uang saya lakukan, seperti berjualan es dan agar-agar.
Setamat SMA, saya gagal masuk AKABRI dan Secaba TNI AD. Kemudian saya pindah ke Purwakarta dan tinggal bersama kakak yang hidupnya sangat pas-pasan. Kami tinggal di rumah kontrakan yang hampir roboh. Selama 3 tahun saya tidak mengenal kasur, karena saya harus tidur dengan hanya beralaskan lantai.
Jenjang pendidikan saya lanjutkan dengan kuliah di STH Purnawarman Purwakarta, sambil berjualan makanan di kantin SMEA Purnawarman serta aktif sebagai Ketua HMI Cabang Purwakarta. Berbagai peristiwa pedih saya alami, sampai saya pernah tidak makan selama tiga hari karena tidak punya uang untuk membeli nasi, karena uangnya habis untuk operasional kegiatan organisasi.
Untuk menyelesaikan kuliah dan menyusun skripsi, saya melakukan penelitian, sambil kerja sebagai tenaga kontrak di PT. Indho Bharat Rayon, dengan upah yang hanya Rp 200.000,- Kemudian saya berhenti dan bekerja menjadi tenaga administrasi di PT. Binawan Praduta. Berhenti dari situ saya berjualan beras ke kantin dan pabrik-pabrik yang ada di Kabupaten Purwakarta.
Pada Tahun 1999, saya menjadi anggota DPRD Kabupaten Purwakarta dan menjabat sebagai Ketua Komisi E, dan sangat dikenal luas terutama oleh kalangan birokrat, politisi, kalangan muda serta mahasiswa akan kritik dan kemampuan argumentasi. Saya masuk kerja sebagai Anggota DPRD pukul 06.00 pagi dan pulang pukul 18.00 sore. Pada Tahun 2003 nasib mengantarkan saya menjadi Wakil Bupati Purwakarta dan pada Tahun 2008, melalui mekanisme Pilkada langsung, saya dipercaya oleh rakyat Purwakarta menjadi Bupati Purwakarta periode 2008-2013.
Demikian sekelumit kisah hidup saya, yang menjadi kenangan serta pengalaman yang sangat berharga bagi saya dalam menjalani kehidupan sebagai pribadi dan pimpinan daerah di Kabupaten Purwakarta.