13 October 2009

Setitik Kisah Hidup "Kang H. Dedi Mulyadi, SH"


Saya Dedi Mulyadi, dilahirkan dari keluarga sederhana di Kampung Sukadaya, Desa Sukasari, Kabupaten Subang pada tanggal 11 April 1971. Saya adalah anak bungsu dari 9 bersaudara, putra pasangan Sahlin Ahmad Suryana dan Karsiti. Ayah saya adalah seorang pensiunan Tentara Prajurit Kader yang dipensiunkan muda pada usia 28 tahun akibat sakit yang diderita sebagai dampak racun mata-mata kolonial, sementara ibu saya, yang tidak bersekolah, pada waktu mudanya merupakan aktivis Palang Merah Indonesia.

Saya konon dilahirkan dengan sulit oleh ibu. Butuh 3 hari 3 malam hingga persalinan baru bisa selesai dengan bantuan seorang bidan. Di masa kecil, saya senang sekali bermain perang-perangan dan setiap kali bermain, saya selalu mengambil peran sebagai komandan dengan pangkat Kolonel, sementara teman-teman sebaya diberi pangkat kopral. Masa kanak-kanak saya habiskan dengan menggembala ternak, menyabit rumput dan mengumpukan kayu bakar yang bertahan dari sejak SD sampai tamat SMA.


Meskipun pernah tidak naik kelas pada saat duduk di kelas 1, selama menjadi siswa SD, saya selalu menjadi Ketua Kelas dan mendapat ranking pertama pada setiap tahunnya.

Jenjang pendidikan SMP saya lalui dengan keprihatinan. Untuk mencapai sekolah saja, jarak yang harus ditempuh setiap hari lebih kurang 20 KM, itu pun ditempuh dengan menggunakan sepeda dengan kondisi yang alakadarnya. Mulai dari sepeda yang dibeli dari hasil jerih payah sendiri seharga Rp 3.500,- hingga sepeda yang berharga Rp 120.000,- dari hasil penjualan kambing yang saya pelihara.

Postur tubuh yang kecil, mengakibatkan saya dijuluki si Unyil, namun tidak menjadi hambatan untuk dikenal karena kemampuan saya dalam berpidato, berdakwah dan membaca puisi, serta selalu menjadi juara dalam bidang puisi, dakwah dan pidato.

Masa SMA saya lewati dengan keprihatinan pula, bersekolah sambil menjadi tukang juru photo, berjualan layang-layang, menjadi penarik ojek, segala hal yang bisa menghasilkan uang saya lakukan, seperti berjualan es dan agar-agar.

Setamat SMA, saya gagal masuk AKABRI dan Secaba TNI AD. Kemudian saya pindah ke Purwakarta dan tinggal bersama kakak yang hidupnya sangat pas-pasan. Kami tinggal di rumah kontrakan yang hampir roboh. Selama 3 tahun saya tidak mengenal kasur, karena saya harus tidur dengan hanya beralaskan lantai.

Jenjang pendidikan saya lanjutkan dengan kuliah di STH Purnawarman Purwakarta, sambil berjualan makanan di kantin SMEA Purnawarman serta aktif sebagai Ketua HMI Cabang Purwakarta. Berbagai peristiwa pedih saya alami, sampai saya pernah tidak makan selama tiga hari karena tidak punya uang untuk membeli nasi, karena uangnya habis untuk operasional kegiatan organisasi.

Untuk menyelesaikan kuliah dan menyusun skripsi, saya melakukan penelitian, sambil kerja sebagai tenaga kontrak di PT. Indho Bharat Rayon, dengan upah yang hanya Rp 200.000,- Kemudian saya berhenti dan bekerja menjadi tenaga administrasi di PT. Binawan Praduta. Berhenti dari situ saya berjualan beras ke kantin dan pabrik-pabrik yang ada di Kabupaten Purwakarta.

Pada Tahun 1999, saya menjadi anggota DPRD Kabupaten Purwakarta dan menjabat sebagai Ketua Komisi E, dan sangat dikenal luas terutama oleh kalangan birokrat, politisi, kalangan muda serta mahasiswa akan kritik dan kemampuan argumentasi. Saya masuk kerja sebagai Anggota DPRD pukul 06.00 pagi dan pulang pukul 18.00 sore. Pada Tahun 2003 nasib mengantarkan saya menjadi Wakil Bupati Purwakarta dan pada Tahun 2008, melalui mekanisme Pilkada langsung, saya dipercaya oleh rakyat Purwakarta menjadi Bupati Purwakarta periode 2008-2013.

Demikian sekelumit kisah hidup saya, yang menjadi kenangan serta pengalaman yang sangat berharga bagi saya dalam menjalani kehidupan sebagai pribadi dan pimpinan daerah di Kabupaten Purwakarta.

28 comments:

  1. memang hidup berawal dari kepedihan ya pak, tapi saya sangat salut dengan pengorbanan dan ke sabaran terutama ke gigihan bapak .. .. .. .. !!
    mudah mudahan bapak bisa memegang teguh amanat rakyat .. .. .. .. !!
    and mudah mudahan saya juga bisa seperti bapak amiiiin amiiiiin ya robal alaiiiiin .. .. .. .. !!

    ReplyDelete
  2. Sami2prihatin3/08/2010 11:56 AM

    Sing saha nu meurih pasti bakal manggih peurah

    ReplyDelete
  3. pikarunyaeun....beda pisan sareng ayeuna nya kang...???

    ReplyDelete
  4. muhun pisan kang ... !!!
    karaooos tehh ....
    emmmh meni bagja pisan nya kang ....
    hoyong dak abdii mah ... !!!!
    amiiin .... !!!

    ReplyDelete
  5. Kalau melihat latar belakang nya sih lahir dari keluarga sederhana...dengan gigih memperjuangak hidup perlu di contoh. Seharuanya itu dijadikan pijakan dalam mempin purwakarta ini, karena menjadi orang susah itu pedih..maka pikirkanlan rakyat kecil/miskin supaya sejahtera hidupnya...

    ReplyDelete
  6. keberhasilan memang selalu berasal dari kegigihan terutama hati yang iklas

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  10. dengan pengalaman bapa saya bisa memetik hikmahnya sebagai bahan cerminan.begitu pun kami yang masih GTT harus sabar menanti cpns

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  13. kumaha sih,ceunah rengking wae tapi teu naek kelas,anu lieur bupati apa apa guruna anu ngajar keun....

    ReplyDelete
  14. assalamualaikum.....
    "abdi mani reueus ku pa dedi , hoyong abdi kawas anjeuna teu jauh beda keur abdi nuju alit keneh ayeuna tos di smk abdi tiasa sakedik 2 keunmah saprtos pidato dakwah ... mun simkuring di undang lamun aya acarana abdi hoyong pisan...

    ReplyDelete
  15. pendidikan harus menjadikan purwakarta semakin istemewa dengan lebih meningkatkan kepedulian kepada generasi muda sebagai fondasi penerus kearifan lokal yang dibentuk mudah-mudahan pendidikan di purwakarta..bisa lebih peduli

    ReplyDelete
  16. coba kalau anda memang berpendidikan di jaga omongan nya, bisa nya cm mengkrtik pdhl anda blm tentu bisa lebih baik dr beliau ..

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  18. kang,,cobi parios dinas pendidikan. 'loba' kepala sakola anu teu beres ngolah dana BOS. haturnuhun.. diantos !
    (eh kang,,ari jajaran ka handapna masih gumede teu?, kade ulah riksak ku nu kitu)

    ReplyDelete
  19. RUPINA disanggakeun wae soal baheula jeung beda jauhna ayeuna. HISAB kunyalira we, da nipu teh peurihna mah ka diri sorangan sanes? Saumur hirup!

    ReplyDelete
  20. Sy mengenal Kang Dedi sejak ada pertemuan di Desa Cibening dalam pembahasan Narkoba, beliau hadir sebagai ketua Komisi E, sejak itu sy punya rasa simpati tersendiri. sampai sekarang sy masih mengikuti kabar terbaru tentang beliau, dan sampai saat ini pula simpati sy menganggap beliau adalah saudara sy. Entah kenapa. Setelah sy mencari tahu, ternyata tanggal lahir saya 11 April 1971, sama dengan tanggal lahir Beliau ( Cuma beda nasib.....). Sampai kapan pun Kang Dedi adalah saudara saya, selamat dan sukses. dri Amin Amrullah Plered-Purwakarta. Email : aminamrullah@yahoo.com

    ReplyDelete
  21. Pegang teguh amanat rakyat pak, jangan suka korupsi, ingat masa lalu bapak yang susah payah hingga sekarang bapak hidup enak, sampai kapanpun uang itu bukan segalanya pak.
    jika bapak memimpin lagi di purwakarta sekarang ini, jangan hanya janji. rakyat sekarang itu pintar-pintar pak...
    mungkin bapak bisa membodohi masyarakat pedesaan tetapi tidak semua.

    karunya di handapna tah nu ku bapak di pimpin teh loba nu korupsi babarengan, piraku rek kitu wae pak. uruskeun pak tah nu karorupsi, nyaah pak jerih payah bapak ayeuna ku batur di manfaatkeun.

    Azhar asli ti kabupaten Purwakarta masih keluarga Manggala. email ekaazhar@ymail.com

    ReplyDelete
  22. Cibungur katinggaleun dibanding desa pemekarana

    ReplyDelete
  23. Untuk itulah, Setelah Merdeka, Harus MERDESA . . . !!!
    http://www.twitter.com/merdesa

    ReplyDelete
  24. Kang Dedi termasuk dijalan keNABIan . . . .
    https://kafirliberal.wordpress.com/2013/01/04/41

    ReplyDelete
  25. kuring urang subang jeung alumni SMADI bangga ka kang dedi hebat euy,, ceuk uing ge kang dedi mah hebat maju terus kang harum keun lemah kameumeut subang

    ReplyDelete
  26. Luaaaar biasa bapak idolaku ini :)
    Hasil jerih payahnya terbayar semua ::)

    ReplyDelete

Berikan komentar anda disini...